Social Icons

.

Pages

Kamis, 14 Agustus 2014

BERBAHAGIA DI HARI YANG FITRI

(Segera miliki koleksi majalah Al-AKHBAR edisi terbaru. Infaq Rp. 7.500,- (via SMS; 085606519111))

Sahabat yang dirahmati Allah SWT
Ramadhan telah berlalu. Tentu ini mengharukan. Belum tentu, ramadhan mendatang kita bisa menikmatinya. Karena semua ketetapan tunduk pada ketentuan Allah SWT.

Nilai hari raya dalam pandangan Islam bukanlah semata-mata rutinitas tahunan biasa. Hari raya menjadi sangat berarti karena ia sejatinya berkaitan dengan ibadah-ibadah penting di dalam Islam. Hari raya idul fitri dirayakan setelah kaum muslimin menunaikan ibadah puasa selama satu bulan penuh, rukun Islam keempat. Dan hari raya idul adha, dirayakan kaum muslimin bersamaan dengan ibadah haji yang tengah ditunaikan oleh sebagian kaum muslimin yang telah mampu melaksanakannya, rukun Islam yang kelima.

Oleh karena itu, hari raya seharusnya dimaknai oleh kaum muslimin sebagai bentuk suka cita karena keutamaan dan karunia Allah, sublimasi dari kebahagiaan karena taat dan ibadah, rasa syukur yang seutuhnya karena takwa dan amal shaleh. Berbahagia karena keutamaan dan karunia Allah adalah perintah Allah ‘azza wa jalla dalam Al Qur`an:

قُلْ بِفَضْلِ اللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَلِكَ فَلْيَفْرَحُوا هُوَ خَيْرٌ مِمَّا يَجْمَعُونَ


Katakanlah: “Dengan kurnia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. kurnia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan.” (QS. Yunus [10]: 58)


Pembaca yang berbahagia,

Di zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dua orang budak wanita bernyanyi menyenandungkan syair-syair hari Bu`ats pada hari raya `ied. Abu Bakar pun marah dan mengingkari perbuatan dua budak wanita tersebut. Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam pun bersabda, “Wahai Abu Bakar, sesungguhnya setiap kaum itu memiliki hari raya, dan hari ini adalah hari raya kita.” (HR Bukhari no: 939, 952 dan Muslim no: 892)

Al Khaththaby berkata, “Dikatakan, dalam hadis tersebut terdapat dalil bahwa hari raya diperuntukkan untuk bersenang-senang, mengistirahatkan jiwa, makan, minum dan jima. Tidakkah anda lihat bahwasannya dibolehkan nyanyian karena alasan hari raya.” (Umdah al Qary: 6/274 dinukil dari Syarh Umdah al Fiqh, 1/410)

Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, ketika para pemuda bermain di masjid pada hari raya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Agar orang-orang Yahudi mengetahui bahwa dalam agama kita juga ada waktu bersenang-senang, sesungguhnya aku diutus dengan agama yang hanif” (HR Ahmad no: 24855 dengan sanad hasan)

Akhirnya, segenap pengurus Yayasan al-Akhbar ar-Refahiyah, redaksi majalah al-Akhbar, dan para relasi mengucapkan…..


تَقَبَلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ
Jazakumullah Khoiron katsiro..

 Berikut bahasan di edisi ini (96):

#Akhbar Kajian Utama
Shalat Itu Cahaya

#Akhbar Akidah
Nikmatnya Melihat Allah

#Akhbar Manhaj
Menggenggam Bara

#Akhbar Akhlak
Tahan Diri Dari Berkilah

#Akhbar Tarikh
Perhatian Kaum Salaf Terhadap Bahasa Arab

#Akhbar Al-Qur'an
Tablis, Sadis Tapi Manis

#Akhbar Shiroh
Al-Imam Al-Bukhari Rahimahullah

#Akhbar Psikologi
Belajar Dari Rasa Pahit

#Akhbar Agenda
Buka Bersama Anak Yatim

#Akhbar Motivasi
Apa Yang Kita Kejar
 
Blogger Templates