Social Icons

.

Pages

Sabtu, 13 September 2014

Hak Dan Keutamaan Tetangga Dalam Sunnah




[1]. Haram Menyakiti Tetangga


Dari Abu Hurairah رضي الله عنه, bahwa Nabi صلی الله عليه وسلم bersabda.

"Artinya : Tidak masuk surga seseorang yang tetangganya tidak merasa aman dari kejahatannya".

[Diriwayatkan oleh Al-Bukhari (6016) dan Muslim (46). Dan dikeluarkan juga oleh Ahmad (3/156), Al-Hakim (1/11) dan Ibnu Hibban (510) dengan sanad yang shahih dari Anas رضي الله عنه. Dan juga dikeluarkan oleh Al-Bukhari (6016) dari Abi Syuraih Al-Ka'bi.]

Dalam bab ini banyak sekali riwayat dan jalan dari selain para shahabat tersebut رضي الله عنهم

[2]. Wasiat (untuk berlaku terpuji) Kepada Tetangganya dan Berbuat Baik Kepadanya

Dari Aisyah رضي الله عنها berkata : Rasulullah صلی الله عليه وسلم bersabda.

"Artinya : Jibril terus menerus berwasiat kepadaku untuk berbuat baik terhadap tetangga, sampai-sampai aku mengira dia akan menjadikannya sebagai ahli waris". [Diriwayatkan oleh Al-Bukhari (6014) dan Muslim (2624). Dikeluarkan pula oleh Al-Bukhari (6015) dan Muslim (2625) dari Ibnu Umar. Dalam bab ini banyak riwayat dari para sahabat. Kalau hadits-hadits mereka dikumpulkan, niscaya akan menjadi satu juz yang besar]

Jumat, 05 September 2014

Seri 3 (Akhir) : Al Imam Ahmad Bin Hanbal Rahimahulloh

Pujian dan Penghormatan Para Ulama Kepada Al Imam Ahmad Bin Hanbal Rahimahulloh

Al Imam Asy Syafi‘i rahimahulloh pernah mengusulkan kepada Khalifah Harun Ar Rasyid, pada hari-hari akhir hidup khalifah tersebut, agar mengangkat Al Imam Ahmad menjadi qadhi di Yaman, tetapi Al Imam Ahmad menolaknya dan berkata kepada Al Imam Asy Syafi‘i, “Saya datang kepada Anda untuk mengambil ilmu dari Anda, tetapi Anda malah menyuruh saya menjadi qadhi untuk mereka.” Setelah itu pada tahun 195 H, Al Imam Asy Syafi‘i mengusulkan hal yang sama kepada Khalifah Al Amin, tetapi lagi-lagi Al Imam Ahmad menolaknya.

Suatu hari, Al Imam Asy Syafi‘i rahimahulloh masuk menemui Al Imam Ahmad dan berkata, “Engkau lebih tahu dariku tentang hadits dan perawi-perawinya. Jika ada hadits shahih (yang engkau tahu), maka beri tahulah aku. Insya Allah, jika (perawinya) dari Kufah atau Syam, aku akan pergi mendatanginya jika memang shahih.” Ini menunjukkan kesempurnaan agama dan akal Al Imam Asy Syafi‘i karena tak sungkan untuk mengembalikan ilmu kepada ahlinya.

Al Imam Asy Syafi‘i rahimahulloh juga berkata, “Aku keluar (meninggalkan) Bagdad, sementara itu tidaklah aku tinggalkan di kota tersebut orang yang lebih wara’, lebih faqih, dan lebih bertakwa daripada Ahmad Bin Hanbal.”

Abdul Wahhab Al Warraq rahimahulloh berkata, “Aku tidak pernah melihat orang yang seperti Ahmad Bin Hanbal.” Orang-orang bertanya kepadanya, “Dalam hal apakah dari ilmu dan keutamaannya yang engkau pandang dia melebihi yang lain?” Al Warraq menjawab, “Dia seorang yang jika ditanya tentang 60.000 masalah, dia akan menjawabnya dengan berkata, ‘Telah dikabarkan kepada kami,’ atau, ‘Telah disampaikan hadits kepada kami’.” Ahmad Bin Syaiban berkata, “Aku tidak pernah melihat Yazid Bin Harun memberi penghormatan kepada seseorang yang lebih besar daripada kepada Ahmad Bin Hanbal. Dia akan mendudukkan beliau di sisinya jika menyampaikan hadits kepada kami. Dia sangat menghormati beliau, tidak mau berkelakar dengannya.” Demikianlah, padahal seperti diketahui bahwa Harun Bin Yazid adalah salah seorang guru beliau dan terkenal sebagai salah seorang imam huffazh.

Ujian Yang Menimpa Al Imam Ahmad Bin Hanbal Rahimahulloh Dan Keteguhan Beliau Dalam membela Sunnah

Tidak dapat dipungkiri dan telah menjadi sunnatulloh bahwa kehidupan seorang mukmin tidak akan lepas dari ujian dan cobaan, terlebih lagi seorang alim yang berjalan di atas jejak para nabi dan rasul. Dan Al Imam Ahmad termasuk di antaranya. Beliau rahimahulloh mendapatkan cobaan dari tiga orang khalifah Bani Abbasiyah selama rentang waktu 16 tahun.

Pada masa pemerintahan Bani Abbasiyah, dengan jelas tampak kecondongan khalifah yang berkuasa menjadikan unsur-unsur asing (non Arab) sebagai kekuatan penunjang kekuasaan mereka. Khalifah Al Makmun menjadikan orang-orang Persia sebagai kekuatan pendukungnya, sedangkan Al Mu‘tashim memilih orang-orang Turki. Akibatnya, justru sedikit demi sedikit kelemahan menggerogoti kekuasaan mereka. Pada masa itu dimulai penerjemahan ke dalam bahasa Arab buku-buku falsafah dari Yunani, Rumania, Persia, dan India dengan sokongan dana dari penguasa. Akibatnya, dengan cepat berbagai bentuk bid‘ah merasuk menyebar ke dalam akidah dan ibadah kaum muslimin. Berbagai macam kelompok aliran sesat menyebar di tengah-tengah mereka, seperti Qadariyah, Jahmiyah, Asy‘ariyah, Syi’ah Rafidhah, Mu‘tazilah, dan lain-lain.

Seri 2: Al Imam Ahmad Bin Hanbal Rahimahulloh

Kecerdasan Al Imam Ahmad Bin Hanbal Rahimahulloh

Putranya yang bernama Shalih Bin Ahmad mengatakan, Ayahku pernah bercerita, “Husyaim meninggal dunia saat saya berusia dua puluh tahun, kala itu saya telah hafal apa yang kudengar darinya”.

Abdullah Bin Ahmad, putra beliau yang lain mengatakan, Ayahku pernah menyuruhku, “Ambillah kitab mushannaf Waki’ mana saja yang kamu kehendaki, lalu tanyakanlah yang kamu mau tentang matan nanti kuberitahu sanadnya, atau sebaliknya, kamu tanya tentang sanadnya nanti kuberitahu matannya”.

Al Imam Abu Zur’ah pernah ditanya, “Wahai Abu Zur’ah, siapakah yang lebih kuat hafalannya? Anda atau Imam Ahmad bin Hambal?” Beliau menjawab, “Ahmad”. Beliau masih ditanya, “Bagaimana Anda tahu?” beliau menjawab, “Saya mendapati di bagian depan kitabnya tidak tercantum nama-nama perawi, karena beliau hafal nama-nama perawi tersebut, sedangkan saya tidak mampu melakukannya”. Abu Zur’ah mengatakan, “Al Imam Ahmad bin Hambal hafal satu juta hadits”.

Murid-Murid Al Imam Ahmad Bin Hanbal Rahimahulloh

Para ulama yang pernah belajar kepada beliau adalah para ulama besar pula seperti Muhammad bin Yahya Adz Dzuhli, Al Imam Al-Bukhari, Al Imam Muslim, Abu Dawud, An Nasa-i, At Tirmidzi, Ibnu Majah, Abu Zur’ah, Abu Hatim Ar Razi, Abu Qilabah, Baqi bin Makhlad, Ali bin Al Madini, Abu Bakr Al Atsram, Shalih dan Abdullah (putra beliau), dan sejumlah ulama besar lainnya.

Bahkan yang dulunya pernah menjadi guru-guru beliau, kemudian mereka meriwayatkan hadits dari beliau seperti Al Imam Abdurrazaq, Al Hasan bin Musa Al Asyyab, Al Imam Asy Syafi’i.

Al Imam Asy Syafi’i ketika meriwayatkan dari Al Imam Ahmad tidak menyebutkan namanya bahkan dengan gelarnya, “Telah menghaditskan kepadaku Ats Tsiqat (seorang yang terpercaya).

Demikian pula teman-temannya seperjuangan dalam menuntut ilmu, mereka juga meriwayatkan dari beliau, seperti Yahya bin Ma’in.

Ahlak Dan Ibadah Al Imam Ahmad Bin Hanbal Rahimahulloh

Pertumbuhan beliau rahimahulloh sangat berpengaruh terhadap kematangan dan kedewasaannya. Sampai-sampai sebagian ulama menyatakan kekaguman akan adab dan kebaikan akhlaknya, “Aku mengeluarkan biaya untuk anakku dengan mendatangkan kepada mereka para pendidik agar mereka mempunyai adab, namun aku lihat mereka tidak berhasil. Sedangkan ini (Ahmad bin Hanbal) adalah seorang anak yatim, lihatlah oleh kalian bagaimana dia!”

Beliau rahimahulloh adalah seorang yang sangat menyukai kebersihan, suka memakai pakaian berwarna putih, paling perhatian terhadap dirinya, merawat dengan baik kumisnya, rambut kepalanya dan bulu tubuhnya.

Orang-orang yang hadir di majelis beliau tidak sekedar menimba ilmunya saja bahkan kebanyakan mereka hanya sekedar ingin mengetahui akhlaq beliau.

Seri 1: Al Imam Ahmad Bin Hanbal Rahimahulloh


Sepatutnya bagi kita untuk senantiasa gemar mendulang faedah dari sikap para ulama yang senantiasa berpegang teguh dengan agama ini, terkhusus pada seorang ulama yang alim, yang memiliki keutamaan, pembela tauhid dan sunnah, dan pemberantas syirik serta bid’ah. Yang tiada lain adalah Al Imam Ahmad Bin Hanbal rahimahulloh, yang betapa teguhnya dalam menjaga aqidah shahihah serta menjaga sunnah Nabi Muhammad shalallahu ’alaihi wasallam. Maka dengan menghayati kisah Al Imam Ahmad Bin Hanbal rahimahulloh akan menjadikan kita lebih bersemangat dalam menekuni ilmu agama yang membuahkan keteguhan terhadap aqidah yang lurus.


Nama Dan Nasab Al Imam Ahmad Bin Hanbal Rahimahulloh


Beliau rahimahulloh terlahir menyandang nama Ahmad dan berkunyah Abu Abdillah, atau lebih tepatnya nama serta nasab beliau adalah Abu Abdillah Ahmad Bin Muhammad Bin Hanbal Bin Hilal Bin Asad Bin Idris Bin Abdullah Bin Hayyan Bin Abdullah Bin Anas Bin ‘Auf Bin Qasith Bin Mazin Bin Syaiban Bin Dzuhl Bin Tsa‘labah Adz Dzuhli Asy Syaibani. Nasab Beliau Bertemu Dengan Nasab Nabi Pada Diri Nizar Bin Ma‘d Bin ‘Adnan. Yang berarti bertemu nasab pula dengan nabi Ibrahim alaihis salam.

Tatkala beliau rahimahulloh masih dalam kandungan, orang tua beliau pindah dari kota Marwa, tempat tinggal sang ayah, ke kota Baghdad. Di kota itu beliau dilahirkan, tepatnya pada bulan Rabi‘ul Awwal -menurut pendapat yang paling masyhur- tahun 164 H.

Ayah beliau meninggal dalam usia 30 tahun, ketika beliau baru berumur tiga tahun. Kakek beliau, Hanbal, berpindah ke wilayah Kharasan dan menjadi wali kota Sarkhas pada masa pemeritahan Bani Umawiyyah, kemudian bergabung ke dalam barisan pendukung Bani Abbasiyah dan karenanya ikut merasakan penyiksaan dari Bani Umawiyyah. Disebutkan bahwa dia dahulunya adalah seorang panglima.

Perjalanan Al Imam Ahmad Bin Hanbal Dalam Menuntut Ilmu Dan Guru-Guru Beliau Rahimahulloh 


Sungguh sangat mengagumkan dan mengesankan semangat Al Imam Ahmad bin Hanbal rahimahulloh di dalam menuntut ilmu. Beliau hafal Al Qur’an pada masa kanak-kanak. Beliau juga belajar membaca dan menulis. Semasa kecil beliau aktif mendatangi kuttab (semisal TPA zaman sekarang).

Kemudian pada tahun 179 H, disaat berusia 15 tahun beliau rahimahulloh memulai menuntut ilmu kepada para ulama terkenal di masanya. Beliau mengawali menimba ilmu kepada para ulama Baghdad, di kota yang beliau tinggali.


Kamis, 04 September 2014

Terus Berbenah Menjadi yang Terbaik


Alhamdulillah,

Segala puji hanya milik Allah ta'ala Rab alam semesta.

Setelah melalui perjuangan yang cukup panjang dan berliku, tak terasa majalah Al-Akbar sampai pada edisi ke-100. Sebagai salah satu media dakwah yang berada di bawah naungan Yayasan Al-Akhbar Ar-Refahiyyah Surabaya yang masih terbilang dini, kami sadar akan masih banyaknya kekurangan yang ada. Apalagi kami hadir di tengah puluhan bahkan mungkin ratusan media Islam yang saat ini telah menyebar dan dibaca umat Islam.

Apapun kondisinya kami tetap berniat dan senantiasa terpacu untuk berupaya menyuguhkan sesuatu yang lain dan bermanfaat kepada para pembaca. Namun tetap tak lupa berjalan di atas koridor syariat menjadi prinsip yang selalu kami utamakan.

Menjadi majalah yang besar dan dapat diterima oleh seluruh lapisan masyarakat memang menjadi harapan kami. Tapi kami juga tidak ingin menjadi besar dengan melanggar batasan-batasan syariat demi tujuan semata. Karena semua itu membutuhkan proses dan waktu yang tidak sebentar. Dan yang terpenting, adalah memberikan dakwah Islamiyah yang ilmiah yang otomatis sesuai Al-Qur’an dan As-Sunnah berdasarkan pemahaman salafus shalih kepada pembaca khususnya dan masyarakat umumnya.

Kepada pembaca, kami senantiasa memohon dukungan doa agar kedepannya Al-Akhbar bisa terbit rutin dan tampil semakin baik. Tidak banyak yang bisa kami janjikan pada edisi-edisi berikutnya, namun semampu mungkin kami ingin menampilkan bacaan Islami yang enak dan mudah dibaca masyarakat. Kami ingin mengubah persepsi masyarakat bahwa Majalah Islam identik dengan bacaan kaku dan berat.

Akhir kata, kritik dan saran senantiasa kami nantikan. Kritik dan saran pembaca tentu akan menjadi pelecut yang memacu semangat kami, insya Allah.

Seri 3 (Akhir): Al-Imam Al-Hafizh Ibnu Katsir Rahimahullah


Pujian Para Ulama Kepada Al-Imam Al-Hafizh Ibnu Katsir Rahimahullah

Keimaman, kealiman dan keshalihan sosok Al-Imam Ibnu Katsir rahimahullah telah diakui para ulama di zamannya mau pun sesudahnya. Dari berbagai disiplin ilmu yang digelutinya, banyak sekali gelar yang disandangnya antara lain:

o Al-Hafizh, yaitu orang yang mempunyai kapasitas hafalan 100.000 hadits matan maupun sanad, walaupun dari berapa jalan, mengetahui hadits sahih serta tahu istilah ilmu itu
o Al-Muhaddits, yaitu orang yang ahli mengenai hadits riwayat dan dirayat, mengetahui cacat dan tidaknya, mengambil dari imam-iammnya, serta dapat mensahihkan dalam mempelajari dan mengambil faedahnya
o Al-Faqih, yaitu gelar keilmuan bagi ulama yang ahli dalam hukum Islam (fiqh), namun tidak sampai ke tingkatan mujtahid. Ia menginduk pada suatu madzhab, akan tetapi tidak taqlid
o Al-Muarrikh, yaitu orang yang ahli dalam bidang sejarah
o Al-Mufassir, yaitu orang yang ahli dalam bidang tafsir, menguasai perangkat-perangkatnya yang berupa Ulumul Qur’an dan memenuhi syarat-syarat mufassir.

Seri 2: Al-Imam Al-Hafizh Ibnu Katsir Rahimahullah



Prestasi Keilmuan Al-Imam Al-Hafizh Ibnu Katsir Rahimahullah

Berkat izin Alloh ta’ala kemudian kegigihan belajarnya, akhirnya beliau menjadi ahli tafsir ternama, ahli hadits, sejarawan serta ahli fiqih besar abad ke-8 H. Kitab beliau dalam bidang tafsir yaitu Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim menjadi kitab tafsir terbesar yang tiada duanya dan tershahih sejagad hingga saat ini, di samping kitab tafsir Al-Imam Muhammad bin Jarir Ath-Thabari rahimahullah.

Para ulama mengatakan bahwa tafsir Ibnu Katsir adalah sebaik-baik tafsir yang ada di jagad ini, karena ia memiliki berbagai macam keistimewaan. Keistimewaan yang terpenting adalah menafsirkan Al-Qur’an dengan Al-Qur’an (ayat dengan ayat yang lain), menafsirkan Al-Qur’an dengan As-Sunnah (Hadits), kemudian dengan perkataan para salafush shalih (pendahulu kita yang sholih, yakni para shahabat, tabi’in dan tabi’ut tabi’in), kemudian dengan kaidah-kaidah bahasa Arab yang murni.

Diantara Murid Al-Imam Al-Hafizh Ibnu Katsir Rahimahullah
Murid-murid beliau sangatlah banyak sekali, banyak diantara mereka yang menjadi ulama besar dizamannya di antaranya adalah Al-Imam Ibnu Hajji rahimahullah. Disebutkan tentangnya bahwa ia adalah seorang yang memiliki hafalan paling kuat terhadap matan-matan hadis yang pernah kami dapati. Paling tahu tentang cacat-cacat hadits, perawi-perawinya, shahih dan dha’ifnya, dan rakan-rakan serta guru-gurunya mengakui hal tersebut. Sejauh ini, setiap kali saya bertemu dengannya pasti saya memperoleh faedah darinya.

Al-Imam Ibnul ‘Imad Al-Hanbali rahimahullah berkata dalam kitabnya yang berjudul Syadzaratudz Dzahab fi Akhbari Man Dzahab: “Beliau adalah Al-Hafizh Al-Kabir, Imaduddin, hafalannya banyak dan jarang lupa, pemahamannya baik, ilmu bahasa Arabnya tinggi.”

Al-Imam Ibnu Habib rahimahullah berkata tentangnya, “Ia mendengar riwayat, mengumpulkan, menulis, mengeluarkan fatwa, menyampaikan hadits, memberi banyak faedah, dan lembaran-lembaran fatwanya tersebar ke berbagai negeri. Ia dikenal dengan kekuatan hafalan dan keelokan karangannya.”

Diantara Buah Karya Al-Imam Al-Hafizh Ibnu Katsir Rahimahullah

Al-Imam Ibnu Katsir merupakan ulama yang produktif dalam menulis dan menelurkan berbagai macam karya ilmiah. Karya-karya itu mencakup berbagai disiplin ilmu, antara lain bidang tafsir, hadits, fikih, sejarah dan Al-Qur’an. Dari berbagai disiplin ilmu yang beliau kuasai menunjukan keluasan ilmu yang beliau miliki. Diantara karya beliau antara lain:

1. Bidang Fikih:

o Kitab Al-Ijtihad Fi Thalab Al-Jihad, Karya ini banyak memperoleh inspirasi dari kitab Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah, As-Siyasah As-Syar‘iyyah.
o Kitab Ahkam. Yaitu fikih didasarkan pada Al-Qur’an dan hadits.
o Al-Ahkam ‘Ala Abwab At-Tanbih yang merupakan komentar dari kitab At-Tanbih karya Al-Imam Asy-Syairazi rahimahullah.

2. Bidang Hadits:

o At-Takmil Fi Ma’rifat Ats-Tsiqat Wa Adh-Dhu’afa’ Wa Al-Majahil
o Jami’ Al-Asanid Wa As-Sunan
o Ikhtishar ‘Ulum Al-Hadits
o Takhrij Ahadits Adillah At-Tanbih Li ‘Ulum Al-Hadits
o Syarh Shahih Al-Bukhari, kitab ini tidak selesai penulisannya, tetapi dilanjutkan oleh Al-Imam Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-‘Asqalani rahimahullah

3. Bidang Sejarah:

o Al-Bidayah Wa An-Nihayah. Kitab ini merupakan kitab sejaran fenomenal yang sarat akan makna yang isinya memaparkan berbagai peristiwa sejak awal penciptaan sampai peristiwa-peristiwa yang terjadi pada tahun 768 H. Sejarah, dalam kitab ini dibagi menjadi dua bagian besar. Pertama, sejarah kuno yang menuturkan riwayat mulai dari awal penciptaan manusia sampai kenabian Muhammad alaihish shalatu wa sallam. Kedua, sejarah Islam mulai dari dakwah Nabi saw di Makkah sampai pertengahan abad 8 H. Kejadian-kejadian setelah hijrah disusun berdasarkan tahun kejadian.
o Al-Fushul Fi Sirah Ar-Rasul Atau As-Sirah An-Nabawiyyah.
o Thabaqat As-Syafi’iyyah.
o Manaqib Al-Imam Asy-Syafi’i.

4. Bidang Tafsir Dan Studi Al-Qur’an:

o Fadha’il Al-Qur’an, berisi tentang ringkasan sejarah Al-Qur’an.
o Tafsir Al-Qur’an al-‘Azhim, tafsir fenomenal dan terbaik milik umat islam atau yang lebih dikenal dengan nama Tafsir Ibnu Katsir

Penulis: Ust. Agung Cahyono, S.Pd.I

Seri 1: Al-Imam Al-Hafizh Ibnu Katsir Rahimahullah



Nama Dan Nasab Al-Imam Al-Hafizh Ibnu Katsir Rahimahullah

Al-Imam Ibnu Katsir rahimahullah dijuluki sebagai Al-Hafizh, Al-Mufassir, Al-Faqih, Al-Muhaddits, Al-Hujjah, Al-Muarrikh, Ats-Tsiqah Imaduddin. Adapun nama lahir beliau adalah Ismail, atau lebih tepatnya kunyah dan nasab beliau adalah Abul Fida’ Ismai bin Umar bin Katsir Al-Qurasyi Al-Bashrawi Ad-Dimasyqi Asy-Syafi’i.

Kelahiran Al-Imam Al-Hafizh Ibnu Katsir Rahimahullah
Al-Imam Ibnu Katsir rahimahullah lahir disebuah desa bernama Mijdal, daerah bagian Bushra pada tahun 700 H (namun dalam beberapa riwayat ada yang mengatakan 701 H). Beliau berasal dari keluarga terhormat, Ayahanda beliau meninggal ketika beliau berusia tiga tahun, dan beliau terkenal sebagai ulama di zamannya sekaligus (orator) khatib saat itu. Adapun Ismail bin Katsir merupakan anak yang paling bungsu. Beliau dinamai Ismail sesuai dengan nama kakaknya yang paling besar yang wafat ketika menimba ilmu di kota Damaskus sebelum beliau lahir.

Dalam usia kanak-kanak, setelah ayahnya meninggal, Al-Imam Ibnu Katsir diboyong oleh kakaknya, Kamaluddin Abdul Wahhab dari desa kelahirannya menuju Damaskus. Di kota inilah beliau tinggal hingga akhir hayatnya. Karena kepindahan ini, diletakkan predikat Ad-Dimasyqi (orang Damaskus) kepada beliau.

Rabu, 03 September 2014

Seri 4 (akhir): Al-Imam Al-Bukhari Rahimahullah


Penelitian Al-Imam Al-Bukhari Rahimahullah Tentang Hadits

Untuk mengumpulkan dan menyeleksi hadits shahih, Bukhari menghabiskan waktu selama enam belas tahun untuk mengunjungi berbagai penjuru negeri guna menemui para perawi hadits, mengumpulkan dan menyeleksi haditsnya. Diantara kota-kota yang disinggahinya antara lain Bashrah, Mesir, Hijaz (Mekkah, Madinah), Kufah, Baghdad sampai ke Asia Barat. Di Baghdad, Al-Imam Al-Bukhari sering bertemu dan berdiskusi dengan ulama besar seperti Al-Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah. Dari sejumlah kota-kota itu, bertemu bertemu dengan 80.000 perawi. Dari merekalah beliau mengumpulkan dan menghafal satu juta hadits.

Namun tidak semua hadits yang ia hafal kemudian diriwayatkan, melainkan terlebih dahulu diseleksi dengan seleksi yang sangat ketat, diantaranya apakah sanad (riwayat) dari hadits tersebut bersambung dan apakah perawi (periwayat/ pembawa) hadits itu terpercaya dan tsiqqah (kuat).

Dalam meneliti dan menyeleksi hadits dan diskusi dengan para perawi tersebut, Al-Imam Al-Bukhari sangat sopan dan beradab. Kritik-kritik yang beliau lontarkan kepada para perawi juga cukup halus namun tajam. Kepada para perawi yang sudah jelas kebohongannya beliau berkata, "perlu dipertimbangkan, para ulama meninggalkannya atau para ulama berdiam dari hal itu". Sementara kepada para perawi yang haditsnya tidak jelas ia menyatakan "haditsnya diingkari". Bahkan banyak meninggalkan perawi yang diragukan kejujurannya. Beliau berkata "Aku meninggalkan sepuluh ribu hadits yang diriwayatkan oleh perawi yang perlu dipertimbangkan dan meninggalkan hadits-hadits dengan jumlah yang sama atau lebih, yang diriwayatan oleh perawi yang dalam pandanganku perlu dipertimbangkan".

Disela-sela kesibukannya sebagai sebagai ulama, pakar hadits, beliau rahimahullah juga dikenal sebagai ulama dan ahli fiqih, bahkan tidak lupa dengan kegiatan kegiatan olahraga seperti belajar memanah sampai mahir.

Seri 3: Al-Imam Al-Bukhari Rahimahullah


Diantara Murid-Murid Al-Imam Al-Bukhari Rahimahullah

Ulama yang meriwayatkan hadits dari Al-Imam Al-Bukhari tidak terhitung jumlahnya. Sehingga ada yang berpendapat, ada sekitar 90.000 orang yang mendengar langsung dari Al-Imam Al-Bukhari.

Di antara sekian banyak murid beliau yang paling menonjol ialah Al-Imam Muslim bin Al-Hajjaj, Al-Imam At-Tirmidzi, Al-Imam An-Nasa-i, Al-Imam Ibnu Khuzaimah, Al-Imam Abu Dawud, Al-Imam Muhammad bin Yusuf Al-Firyabi, Al-Imam Ibrahim bin Mi'yal Al-Nasafi, Al-Imam Hammad bin Syakir An-Nasawi dan Al-Imam Mansur bin Muhammad Al-Bazdawi rahimahumullah. Empat orang yang terakhir ini adalah perawi Shahih Al-Bukhari yang termashyur.

Pujian Para Ulama Terhadap Al-Imam Al-Bukhari Rahimahullah

Karya-karya beliau rahimahullah dalam bidang hadits terus mengalir dan beredar di dunia Islam. Kepiawaian beliau dalam menyampaikan keterangan tentang berbagai kepelikan di seputar ilmu hadits di berbagai majelis-majelis ilmu bersinar cemerlang sehingga beliau dipuji dan diakui keilmuannya oleh para gurunya dan para ulama yang setara ilmunya dengan beliau, lebih-lebih lagi oleh para muridnya. Beliau menimba ilmu dari seribu lebih ulama dan semua mereka selalu mempunyai kesan yang baik, bahkan kagum terhadap beliau.

Seri 2: Al-Imam Al-Bukhari Rahimahullah


Al-Imam Al-Bukhari Rahimahullah Dalam Menuntut Ilmu Agama

Di awal usianya yang ke delapan belas, Al-Imam Al-Bukhari diajak oleh ibundanya bersama kakaknya bernama Ahmad bin Ismail berangkat ke Makkah dalam rangka menunaikan ibadah haji. Perjalanan jauh antara negeri Bukhara dengan Mekkah menunggang unta, keledai dan kuda adalah pengalaman baru baginya. Sehingga beliau terbiasa dengan berbagai kesengsaraan serta kepahitan perjalanan jauh mengarungi padang pasir, gunung-gunung dan lembahnya yang penuh keganasan alam.

Dalam kondisi yang demikian, beliau merasa semakin dekat kepada Allah ta'ala dan benar-benar menikmati perjalanan yang memakan waktu berbulan-bulan. Sesampainya di Makkah, Al-Imam Al-Bukhari mendapati kota Makkah penuh dengan ulama Ahli Hadits yang membuka halaqah-halaqah ilmu. Tentu yang demikian ini semakin menggembirakan beliau. Oleh karena itu, setelah selesai pelaksanaan ibadah haji, beliau tetap tinggal di Makkah sementara kakak kandungnya kembali ke Bukhara bersama ibundanya. Beliau bolak-balik antara Makkah dan Madinah, kemudian akhirnya mulai menulis biografi para tokoh. Sehingga lahirlah untuk pertama kalinya karya beliau dalam bidang ilmu hadits yang berjudul Kitab At-Tarikh.

Seri 1: Al-Imam Al-Bukhari Rahimahullah


Nama Dan Nasab Al-Imam Al-Bukhari Rahimahullah

Nama lahir Al-Imam Al-Bukhari rahimahullah adalah Muhammad, sedangkan kunyah dan nasab beliau adalah Abu Abdillah Muhammad bin Ismail bin Ibrahim bin Al-Mughirah bin Bardizbah. Kakek (Zoroaster) sebagai agama asli orang-orang Persia yang menyembah api. Sang kakek tersebut meninggal dalam keadaan masih beragama Majusi. Putra dari Bardizbah yang bernama Al-Mughirah kemudian masuk Islam di bawah bimbingan gubernur negeri Bukhara Yaman Al-Ju’fi sehingga Al-Mughirah dengan segenap anak cucunya dinisbatkan kepada kabilah Al-Ju’fi. Dan ternyata cucu dari Al-Mughirah ini di kemudian hari mengukir sejarah yang luar biasa, yaitu sebagai seorang Imam Ahli Hadits umat ini.

 
Blogger Templates