Social Icons

.

Pages

Featured Posts

Minggu, 13 Desember 2015

Mandiri Ciri Mukmin Sukses Abadi

Kemandirian adalah syarat sekaligus bukti kesuksesan. Kemandirian adalah menjauhkan diri dari menggantungkan diri kepada manusia untuk menyelesaikan urusan pribadi. Kemandirian bukan berarti menjauhkan diri dari bekerja sama, bahkan bekerja sama sangat dianjurkan dalam Islam. Yang dilarang dan bertentangan dengan syariat kemandirian adalah membatasi kemampuan diri sehingga menganggap diri tidak mampu mengatasi persoalan pribadi yang sudah menjadi tanggung jawabnya, padahal sebetulnya mampu jika mau mengeksplornya.

Minggu, 13 September 2015

Tauhid, Hak Allah Ta’ala atas Segenap Manusia

Sesungguhnya tauhid adalah hak Allah yang paling wajib untuk ditunaikan oleh manusia. Allah tidaklah menciptakan manusia kecuali untuk bertauhid. Allah swt berfirman:

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembahKu.” (QS. Adz-Dzaariyaat: 56)

Sebagian ulama menafsirkan kalimat: “supaya menyembahKu” dengan makna: “supaya mentauhidkanKu.” (Lihat al-Qaulul Mufiid karya Syaikh Ibnu `Utsaimin jilid 1 hal. 20.)

Jika peribadahan kepada Allah tidak disertai dengan bertauhid maka tidak akan bermanfaat. Amalan mana pun akan tertolak dan batal bila dicampuri oleh syirik. Bahkan bisa menggugurkan seluruh amalan yang lain bila perbuatan syirik yang dilakukan dalam kategori syirik besar.

Allah swt berfirman:
“Seandainya mereka mempersekutukan Allah, niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan.“ (QS. Al-An`aam: 88)

“Jika kamu mempersekutukan (Allah), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi.” (QS. Az-Zumar: 65)

Dua ayat ini merupakan peringatan Allah Ta’ala kepada para nabiNya. Lalu bagaimana dengan yang selain mereka? Tentu setiap amalan yang mereka lakukan adalah sia-sia bila tanpa tauhid dan bersih dari syirik.

Sabtu, 12 September 2015

Antara Sunnah Fi’liyyah & Sunnah Tarkiyyah

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu uswatun hasanah (suri teladan yang baik) bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (QS. Al-Ahzaab: 21)

Ayat yang agung di atas, di setiap bulan Rabi’ul Awwal, biasanya menjadi ayat yang paling sering terdengar dari corong-corong masjid. Tentu saja melalui mimbar-mimbar ceramah maulid. Para penceramah maulid juga tidak pernah lupa mengingatkan makna inti yang terkandung dalam ayat tersebut, bahwa kita sebagai umat Muhammad wajib untuk menjadikan beliau sebagai panutan dan ikutan dalam mengamalkan agama. Belakangan, mencuat sebuah pertanyaan, sudahkah makna inti ayat tersebut terealisasi pada diri dan masyarakat muslim kita? Dan apakah kita telah memahami hakikat “uswatun hasanah” yang diinginkan oleh ayat tersebut?

Ulama tafsir mengaitkan turunnya ayat di atas secara khusus dengan peristiwa perang Khandaq yang sangat memberatkan kaum muslimin saat itu. Nabi dan para sahabat benar-benar dalam keadaan susah dan lapar, sampai-sampai para sahabat mengganjal perut dengan batu demi menahan perihnya rasa lapar. Mereka pun berkeluh kesah kepada Nabi. Adapun Nabi, benar-benar beliau adalah suri teladan dalam hal kesabaran ketika itu. Nabi bahkan mengganjal perutnya dengan dua buah batu, namun justru paling gigih dan sabar. Kesabaran Nabi dan perjuangan beliau tanpa sedikitpun berkeluh kesah dalam kisah Khandaq, diabadikan oleh ayat di atas sebagai bentuk suri teladan yang sepatutnya diikuti oleh umatnya. Sekali lagi ini adalah penafsiran yang bersifat khusus dari ayat tersebut, jika ditilik dari peristiwa yang melatar belakanginya. (lihat Tafsir al-Qurthubi: 14/138-139)

Sabtu, 11 April 2015

SEBAB SEBAB YANG MENOLONG SEORANG MUSLIM TERHINDAR DARI DOSA

::Ust. Ali Bazher

Bukanlah sebuah fenomena yang bisa disangkal lagi bahwa umat Islam saat ini telah jauh dari agama dan Tuhannya. Umat ini telah banyak meninggalkan perintah Allah dan sebagian besar hal ini terjadi disebabkan karena mereka telah melampaui batas di dalam kehidupan ini. Entah karena berlebih-lebihan di dalam menjalankan agama ini ataukan mereka justeru melecehkan bagian-bagian dari agama yang agung ini. Hal ini Nampak begitu jelas di hadapan mata kita semua ketika banyak dari manusia telah bergelimang dengan perbuatan keji dan dosa. Dan sarana dan juga jalan yang menggiring mereka untuk berbuat dan bergelimang dosa tersebut begitu mudahnya didapatkan dan diperoleh. Butuh upaya yang keras dan usaha yang tidak kenal lelah untuk menghindarkan diri kita dari semua itu. Bahkan untuk seorang beriman pun mereka membutuhkan usaha dan energi yang berlipat ganda untuk bermujahadah (bersungguh-sungguh) di dalam membentengi diri mereka dari setiap sarana dan juga jalan yang mengarah ketepi jurang kehancuran dan kenistaan. Setiap muslim yang berupaya menjaga dirinya dan keluarganya bak memegang bara api sebagaimana yang disebutkan oleh Rasulullah dalam sabdanya,

يَأْتِي عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ الصَّابِرُ فِيهِمْ عَلَى دِينِهِ كَالْقَابِضِ عَلَى الْجَمْرِ

“Akan datang kepada manusia suatu zaman, seorang yang bersabar di atas agamanya seperti memegang bara api”. (HR At Tirmidzi dari sahabat Anas hadits ini berderajat hasan li ghairihi; lihat di Ash-Shahihah no. 957)
 
Blogger Templates