Social Icons

.

Pages

Jumat, 22 Agustus 2014

MUARA KESELAMATAN

@Ust. Ali Basher

Berbicara mengenai keselamatan tentunya kita berbicara mengenai sebuah cita-cita dan dambaan seluruh umat manusia. Tiada seorangpun di dunia ini kecuali mereka berharap akan keselamatan baik dalam kehidupan di dunia yang fana ini terlebih ketika kita hadir dalam kehidupan setelah kematian, yaitu kehidupan akhirat yang kekal abadi. Namun terkadang banyak yang mencari keselamatan namun tidak berjalan menujunya. Bahkan terkadang tanpa merasa atau terasa berlari semakin jauh dari jalan yang akan membawanya kepada keselamatan.

Sebelum kita berbicara akan keselamatan, ada sebuah kisah yang menarik terjadi diantara para sahabat yang mulia yaitu Abu Bakar Ash-Shiddiq, Umar bin Khaththab, dan Utsman bin Affan. Sebagaimana hadits akan kisah ini diceritakan oleh Utsman bin Affan sendiri dan diriwayatkan dari Al-Imam Ahmad bin Hanbal dalam Musnad beliau. Ustman bin Affan bertutur : 

(Suatu ketika) berlalu padaku Umar bin Khaththab dan memberikan salam sedangkan aku (Utsman) tidak merasakan akan hal tersebut, kemudian Umar pergi dan mendatangi Abu Bakar dan berkata padanya bagaimana menurutmu aku melalui Utsman dan memberikan salam kepadanya sedangkan ia tidak menjawab salamku, dan kemudian keduanya mendatangi aku (Utsman) dan Abu Bakar berkata kepada Utsman, bahwa telah berlalu dihadapanmu saudaramu Umar dan mengucapkan salam kepadamu sedangkan engkau tidak menjawabnya. Maka Utsman menjawabnya bahwa tiada yang berlalu dihadapannya yaitu (Utsman) tidak melihatnya. 
Kemudian Umar berkata demi Allah aku telah berlalu padamu, dan Utsman menjawabnya demi Allah aku tidaklah merasakan (akan kehadirannya) dan ucapan salamnya kepadaku. Abu Bakar berkata bahwa Utsman telah mengatakan yang sebenarnya bahwa ia telah disibukkan (akan sebuah perkara) sehingga ia tidak sadar bahwa Umar telah berlalu padanya dan mengucapkan salam kepadanya. Ia (Utsman) tidak merasakan akan kehadirannya dan salamnya kepadanya, ini menunjukan bahwa apa yang dipikirkannya adalah sesuatu yang agung sehingga menyibukannya, kemudian ia menjawabnya benar bahwa aku sedang memikirkan akan jalan keselamatan, sedangkan Rasulullah telah meninggalkan kita semua, sedangkan aku belum mempertanyakan akan hal tersebut, maka apabila kita memperhatikan kisah ini dari tiga orang generasi terbaik Rasulullah, dan seluruhnya telah mendapatkan bushro (kabar gembira) akan surga Allah, dan pada suatu ketika Utsman yang dalam keadaan duduk-duduk memperhatikan dan memikirkan akan keselamatan, bagaimana mendapatkan dan caranya sehingga ia tidak memperhatikan Umar berlalu padanya dan mengucapkan salam padanya. Dan Abu Bakar berkata bahwa aku telah bertanya akan hal itu kepada Rasulullah akan hal tersebut (yakni akan keselamatan), maka Utsman berkata demi Ibu dan Ayahku apa yang dikatakannya kepadamu? Maka beliau (Abu Bakar) menjawab bahwa Rasulullah berkata, “Barangsiapa yang menerima dariku sebuah kalimat ( yakni kalimat tauhid ) yang aku sampaikan pada pamanku sedangkan ia menolaknya, maka ia akan selamat.”

Sungguh kisah di atas adalah sebuah episode kehidupan yang patut kita renungkan bersama. Ketika tiga manusia yang luar biasa ini berbicara akan jalan keselamatan, padahal keselamatan itu telah mereka miliki. Beranjak dari kisah tersebut maka kami akan menyimpulkan akan muara keselamatan yang patut menjadi tujuan dan jalan kita semua dalam mengarungi kehidupan ini dalam beberapa hal diantaranya : 

PEMBAGIAN ZAKAT FITRAH 1435 H


         
Alhamdulillah, segala pujian kami haturkan pada Dzat yang Maha Segalanya atas karunia nikmat yang telah dikaruniakan kepada segenap kaum muslimin, sehingga pada kesempatan kali ini kami diberikan kemudahan untuk melaksanakan Silaturahmi Buka Bersama 1435 Hijriyah yang dihadiri oleh pengurus Yayasan al-Akhbar ar-Refahiyah dan 14 ketua ranting.

Bertepatan dengan acara tersebut kami juga mengadakan pembagian zakat fitrah dan zakat maal pada 14 ketua ranting untuk dibagikan kepada yang berhak. Alhamdulillah, Yayasan al-Akhbar ar-Refahiyah telah membagikan zakat maal sebanyak Rp. 17.750.000,- yang dibagikan kepada 355 KK dengan pembagian masing masing @ Rp. 50.000,- Adapun Zakat non ranting sebesar Rp 2.100.000,- Zakat Fitrah terkumpul beras sebanyak 532,5 Kg, yang dibagikan kepada 355 KK dengan pembagian masing-masing @ 1,5 Kg.

Semoga Zakat Maal dan Zakat Fitrah yang Anda salurkan melalui kami, membuat lembut hati kita semua, dan dapat meringankan sedikit beban saudara kita dari kalangan dhuafa. Acara ini berlangsung pada hari Ahad, 25 Juli 2014 di sekretariat Yayasan al-Akhbar ar-Refahiyah Jalan Semut 7 No. 24 Surabaya.

Semoga Allah menjadikan silaturahmi ini sebagai jalan terjaganya ukhuwah antar pengurus, dan menjadikan Yayasan al-Akhbar ar-Refahiyah sarana menuju kepada keridhaan-Nya. Semoga para muzakki dan mustahik dibalas oleh Allah Ta’ala dengan sebaik-baik balasa serta semoga Allah menerima amal ibadah kita. Amin.

Kamis, 21 Agustus 2014

JIKA YANG BARU SELALU BARU

+Pak Shodiq 

Setiap memasuki tahun ajaran baru, saya merasa terlahir kembali. Mungkin inilah yang spesial dari rutinitas seseorang yang bekerja sebagai pendidik. Kembali menjumpai wajah-wajah baru yang akan terus bersama selama beberapa tahun. Meski pada di sisi lain, saya merasa kehilangan sahabat-sahabat yang telah menyelesaikan studinya. Tapi begitulah, kehidupan selalu membawa kita pada ruang pertemuan dan perpisahan. Mengajarkan makna kebersamaan dan makna kehilangan.

Hal-hal baru memang selalu membuat antusias. Tentu memang tidak seluruh hal baru yang demikian. Namun tahun ajaran baru, bagi saya selalu memicu semangat berlipat untuk menjalani lagi rutinitas kegiatan belajar mengajar. Selama setahun menjalani aktivitas mengajar, memang tidak selalu berjalan mulus. Sebagai manusia, terkadang rasa bosan tiba-tiba menjalar. Apalagi sebagai pendidik, setiap hari bertemu dengan karakter beragam. Karena beragam, sudah pasti menimbulkan efek bercampur baur. Terkadang menjumpai karakter yang menyenangkan, namun dalam beberapa kesempatan juga hadir karakter yang kurang menyenangkan.

Nah, momen tahun ajaran baru rasa-rasa yang terakumulasi di tahun sebelumnya sudah seharusnya dipangkas habis. Kembali pada titik semula. Menghadapi wajah-wajah lama tetapi dengan bahan bakar semangat-motivasi dan penuh inspirasi. Saya pikir hal demikian juga terjadi pada setiap peserta didik. Dulu, ketika saya menjadi siswa, tahun ajaran baru juga sangat saya rindukan. Pertama memang ingin kembali berjumpa dengan teman-teman dan juga guru-guru. Tapi yang sangat saya inginkan pada waktu itu yakni, menginginkan sesuatu yang berbeda. Entah itu suasana kelas, perlakuan teman, sikap guru dll.

Sesuatu yang berbeda. Inilah yang idealnya harus diracik oleh seorang pendidik di awal tahun ajaran baru. Nah, untuk bisa meraciknya tentu saja perlu refleksi menyeluruh dari kegiatan pembelajaran di tahun sebelumnya. Bagaimana komunikasi dengan siswa, bagaimana komunikasi dengan teman sejawat, bagaimana komunikasi dengan pimpinan, bagaimana komunikasi dengan masayarakat, dan banyak lagi bagaimana lainnya yang perlu menjadi kajian serius.

Refleksi diri memang lebih baiknya membutuhkan masukan dari pihak lain. Hal ini membantu melihat diri kita dari perspektif berbeda. Tentu saja nanti akan ada banyak hal yang mencengangkan. Ketika saya membagi kuisioner pada beberapa siswa secara acak dan tanpa menuliskan nama , hasilnya cukup bervariasi. Namun yang begitu mengejutkan, ada siswa yang menulis di lembar kuisioner bahwa saya terlalu banyak gaya/over acting. Label ini mau tak mau membuat saya harus mengantisipasi yang demikian ini. Lebih berhati-hati lagi. Begitulah seterusnya. Memang ini tidak serta merta menjadikan kita pendidik yang sempurna. Bagaimanapun fitrah sebagai manusia yang punya banyak kekhilafan tak bisa dihindari. Tetapi toh, kita punya kewajiban untuk selalu meningkatkan kualitas diri.

***

Ketika kemarau yang berkepanjangan, lalu hujan yang dinantikan benar-benar datang. Perasaan suka cita yang demikianlah sudah seharusnya menjadi milik pendidik ketika akan memulai tahun ajaran baru. Karena bagaimanapun, posisi pendidik sangat menentukan bagi keberhasilan peserta didiknya. Bolehlah fasilitas memadai, kurikulum terbaru, tetapi profesionalisme seorang pendidik masihlah yang terdepan. Ketika pendidik bersikap apatis, lalu bagaimana dengan peserta didiknya?

Kalau saya berbicara tentang kesejahteraan pendidik memanglah beragam. Di sekolah-sekolah yang memiliki basis kuat di pendanaan (sekolah favorit) tentu kesejah teraannya berbanding terbalik di sekolah-sekolah pinggiran. Tapi bukan berarti saya hendak mengunggulkan yang satu dengan lainnya. Yang lebih penting, marilah kita menjadi kebanggaan peserta didik kita. Apa yang dibanggakan? Modal semangat dan motivasi yang kuat untuk menjalani pekerjaan kita selama setahun mendatang.

Entah itu Pegawai Negeri Sipil (PNS), Guru Tetap Yayasan (GTY), Guru Tidak Tetap (GTT), guru bersetifikasi dll, mari kita pompa semangat kita menjadi berlipat. Siswa kita ingin yang terbaik dari kita. Maka pilihan yang bijak, dimanapun posisi kita mari menyiapkan modal semangat dan bekal motivasi untuk anak didik kita. Memang benar, tak ada pertalian darah diatara dengan mereka, tapi itu bukan alasan untuk tidak habis-habisan memberikan yang terbaik untuk mereka. Allah telah menitipkan mereka melalui hati, senyum, tatapan mata, dan tangan Anda. Jadi, mari melangkah dengan suasana baru yang dirindukan anak-anak kita. Semoga berhasil..

Penulis juga tinggal di www.pakshodiq.blogspot.com





TAHAN DIRI DARI BERKILAH

@Abu Yahya Al-Fakih

Kesungguhan dalam mempersembahkan penghambaan diri yang terbaik kepada Allah sangat ditekankan. Setiap hamba diharapkan senang mengoptimalkan ibadah kepada Allah dan melakukannya tepat waktu, sesuai ketetapan dari-Nya. Qalbu yang menerima pancaran cahaya Allah akan rindu akan kedekatan dengan Allah secara optimal.

Sebaliknya, qalbu yang kotor, yang penuh noktah dosa, yang gulita, senantiasa dalam keadaan terpedaya. Merasa telah sempurna dalam beribadah kepada Allah, padahal hanya prasangkaan belaka. Seringkali berkilah, mencari-cari alasan untuk bisa lepas dari tanggungan ibadah, mengais dalih kemudian merasa tidak bersalah atas keteledoran maupun kesengajaannya terhadap kualitas dan kuantitas ibadah yang kian minus, begitu pula taubat yang tidak serius.

Kebiasaan berkilah ini harus kita enyahkan dari qalbu, agar kita tidak tertipu, sebab kematian setiap saat pasti menyerbu, lantas akankah dalam kerugian akhirat, kita akan termangu? Penurunan kualitas dan kuantitas ibadah walaupun sekecil debu, sudah merupakan ketertipuan dan kekalahan. Kita pasti ingat betul betapa kerasnya permusuhan syaithan. Syaithan-lah yang berhasil mendidik qalbu kita untuk pintar mencari-cari alasan yang sebetulnya tidak bisa dibenarkan.

Saat adzan berkumandang, terkadang terucap, “Cepat sekali baru saja adzan sudah adzan lagi.” Kemudian kita masih saja melanjutkan kesibukan. Hingga shalat jama’ah usai, kita tidak juga berada di masjid. Alasannya, waktu shalat masih panjang, atau sedang repot dengan ta’lim maupun muthala’ah, atau sibuk dengan pekerjaan yang tidak bisa ditinggalkan, atau mengasuh anak karena sang istri sedang pergi.

Kita juga menyaksikan, banyak sekali pelaku kejahatan yang suka berkilah untuk mencari pembenaran atas perbuatannya, minimal bisa meringankan hukuman yang hendak menimpanya. Kita pun merasakan pernah enggan dan menolak berinfaq dengan kilah takut kekurangan harta pada saat membutuhkan.

Kamis, 14 Agustus 2014

BELAJAR DARI RASA PAHIT

@Oleh: Pana Pramulia

Saya pernah mengalami bagaimana hidup di dalam kemiskinan. Masih SD pada saat itu. Serba kekurangan merupakan peristiwa yang kami alami setiap saat. Orang tua berjualan jajanan di pasar desa yang lebih sering kurang laku. Betapa saya ingin menghapus kenangan itu karena pahitnya. Apabila saya sakit, jangankan di bawa ke dokter, membeli obat pun begitu berat. Karena panas tubuh saya tak kunjung reda, maka orang tua menempuh jalan terakhir yang lazim disebut jurus pamungkas saat itu: mencekoki ramuan pahit yang sebetulnya adalah jamu. Begitu trauma saya pada kepahitan itu. Saya menganggapnya sebagai ramuan hantu. Pengalaman mengenal rasa pahit benar-benar berlatar belakang keadaan yang pahit.

Dicekoki jamu pahitan itu saya bayangkan sebagai penganiayaan. Saya berpikir, begitu kejamnya orang tua saya terhadap anaknya sendiri. Sebenarnya, orang tua sudah meminta saya bersabar mengadapi keadaan berat tersebut. Tetapi, sebagai anak kecil saya terus meronta tanpa mengerti keadaan yang sesungguhnya. Memang begitulah lazimnya anak-anak, betapapun dalam kemiskinan, kalau boleh ia akan menyuruh orang tuanya mengambil bintang. Saya baru mengerti keadaan yang sesungguhnya ketika melihat Ibu berdoa ketika selesai sholat dengan berlinang air mata. Trenyuh hati saya, jantung berdebar hebat dan merasa bersalah karena ketidakmengertian saya.

BERBAHAGIA DI HARI YANG FITRI

(Segera miliki koleksi majalah Al-AKHBAR edisi terbaru. Infaq Rp. 7.500,- (via SMS; 085606519111))

Sahabat yang dirahmati Allah SWT
Ramadhan telah berlalu. Tentu ini mengharukan. Belum tentu, ramadhan mendatang kita bisa menikmatinya. Karena semua ketetapan tunduk pada ketentuan Allah SWT.

Nilai hari raya dalam pandangan Islam bukanlah semata-mata rutinitas tahunan biasa. Hari raya menjadi sangat berarti karena ia sejatinya berkaitan dengan ibadah-ibadah penting di dalam Islam. Hari raya idul fitri dirayakan setelah kaum muslimin menunaikan ibadah puasa selama satu bulan penuh, rukun Islam keempat. Dan hari raya idul adha, dirayakan kaum muslimin bersamaan dengan ibadah haji yang tengah ditunaikan oleh sebagian kaum muslimin yang telah mampu melaksanakannya, rukun Islam yang kelima.

Oleh karena itu, hari raya seharusnya dimaknai oleh kaum muslimin sebagai bentuk suka cita karena keutamaan dan karunia Allah, sublimasi dari kebahagiaan karena taat dan ibadah, rasa syukur yang seutuhnya karena takwa dan amal shaleh. Berbahagia karena keutamaan dan karunia Allah adalah perintah Allah ‘azza wa jalla dalam Al Qur`an:

قُلْ بِفَضْلِ اللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَلِكَ فَلْيَفْرَحُوا هُوَ خَيْرٌ مِمَّا يَجْمَعُونَ


Katakanlah: “Dengan kurnia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. kurnia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan.” (QS. Yunus [10]: 58)


Pembaca yang berbahagia,

Di zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dua orang budak wanita bernyanyi menyenandungkan syair-syair hari Bu`ats pada hari raya `ied. Abu Bakar pun marah dan mengingkari perbuatan dua budak wanita tersebut. Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam pun bersabda, “Wahai Abu Bakar, sesungguhnya setiap kaum itu memiliki hari raya, dan hari ini adalah hari raya kita.” (HR Bukhari no: 939, 952 dan Muslim no: 892)

Al Khaththaby berkata, “Dikatakan, dalam hadis tersebut terdapat dalil bahwa hari raya diperuntukkan untuk bersenang-senang, mengistirahatkan jiwa, makan, minum dan jima. Tidakkah anda lihat bahwasannya dibolehkan nyanyian karena alasan hari raya.” (Umdah al Qary: 6/274 dinukil dari Syarh Umdah al Fiqh, 1/410)

Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, ketika para pemuda bermain di masjid pada hari raya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Agar orang-orang Yahudi mengetahui bahwa dalam agama kita juga ada waktu bersenang-senang, sesungguhnya aku diutus dengan agama yang hanif” (HR Ahmad no: 24855 dengan sanad hasan)

Akhirnya, segenap pengurus Yayasan al-Akhbar ar-Refahiyah, redaksi majalah al-Akhbar, dan para relasi mengucapkan…..


تَقَبَلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ
Jazakumullah Khoiron katsiro..

 Berikut bahasan di edisi ini (96):

#Akhbar Kajian Utama
Shalat Itu Cahaya

#Akhbar Akidah
Nikmatnya Melihat Allah

#Akhbar Manhaj
Menggenggam Bara

#Akhbar Akhlak
Tahan Diri Dari Berkilah

#Akhbar Tarikh
Perhatian Kaum Salaf Terhadap Bahasa Arab

#Akhbar Al-Qur'an
Tablis, Sadis Tapi Manis

#Akhbar Shiroh
Al-Imam Al-Bukhari Rahimahullah

#Akhbar Psikologi
Belajar Dari Rasa Pahit

#Akhbar Agenda
Buka Bersama Anak Yatim

#Akhbar Motivasi
Apa Yang Kita Kejar
 
Blogger Templates